Riya’ dan Sum’ah
Memang setipis kertas jarak antara niat ikhlas dengan riya’ dan sum’ah. Saya sendiri beberapa kali membaca buku tentang How to Influence People, How to make a leadership, etc, ada poin penting yang senantiasa ada, yaitu learn to listen dan listen to learn. Kita dalam level pemimpin/ leader, tidak hanya dituntut untuk berbicara – sebagaimana merupakan bakat alamiah kebanyakan orang, yaitu senang berbicara. Kita juga dituntut agar terampil mendengarkan.
Kenapa saya sebut secara alamiah? Karena memang kita lebih senang membicarakan diri kita sendiri. Bayangkan ketika kita naik kereta api ke Semarang selama 6 jam. Kemudian teman sebelah kita bertanya kepada kita mengenai topik yang sangat kita kuasai. Maka, secara alami, kita akan cenderung berbusa-busa untuk menceritakan topik itu, menjelaskan, bahkan kalau perlu mendramatisir, dengan nada-nada seolah kita paling menguasai dan bisa mengatasi semua masalah yang ada.
Tapi, dengan asas kesadaran rendah hati, banyak orang juga yang bisa menahan diri untuk menjaga ucapannya, tindakannya, pikirannya, dengan landasan bahwa semua ilmu berasal dari Allah semata. Dia akan irit berbicara. Setiap ada target yang diberikan, akan selalu dia capai. Ketika ditanya, kalimat jawabannya tidak riya’. Dia bilang, “Ini kan Allah yang ngasih kemudahan ke saya agar bisa bekerja dengan tim yang luar biasa”.
Lain cerita, si pegawai ini kalau ada apa-apa, jangan tanya. Tanpa disuruh, dia akan langsung kerjakan. Just do it, meminjam tagline Nike.
Seorang pegawai, misalnya. Dia terlihat pendiam. Pokoknya tipe pegawai yang tekun bekerja dan dia ternyata gak banyak omong. Tiba-tiba, pegawai ini terlihat oleh teman sekerjanya pada hari sabtu-minggu di suatu pameran mall. Tanpa dinanya, dia terlihat naik mobil van, yang parkir di depan sebuah toko, yang ternyata toko itu adalah salah satu unit bisnis yang dikelolanya sendiri. Sepertinya lumayan sukses, terbukti dengan cirri-ciri fisik yang sehat: mobil van yang bersih, pegawai yang berseragam, penampilan komoditas jualan yang berkualitas, dll.
Ibaratnya, orang ini pun bisa dikategorikan meng-uswatun khasanah-kan dirinya, akan tetapi dilihat dari kacamata orang luar. Bukan dia yang berniat ingin menunjukkan kesuksesan jati dirinya. Bukan sum’ah. Bahkan apabila teman sekantornya ini akhirnya ketularan memiliki bisnis sampingan karena termotivasi dari teman kita yang naik mobil van ini, insya allah pahala ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir.
Menurut saya, kata singkatnya adalah do it our best. Allah pun selalu memberikan jalan inspirasi bagi orang lain, yang barangkali melalui kita. Biarkan Allah yang mengatur. Itu juga merupakan tips yang saya yakin merupakan juru ampuh menangkis riya’ dan sum ‘ah.

kalau mampir di sini rasanya sejuk karena mendapat pencerahan
matur nuwun … semoga blognya makin mantap dan tulisannya makin bernas
salam
Wah nyindir saya nih….:)perlu perjuangan keras untuk menangkis riya dan sum’ah. Semoga kita semua bisa terhindar dari dua penyakit itu….amin