Promosi Langsung Melalui Sales Promotion Girl
Sales Promotion Girl (SPG) bisa kita temui dimana-mana. Di pasar, di terminal, di supermarket, di sekolah, di pameran, di counter department store, dan masih banyak lagi. Beragam juga produk yang tidak lepas dari peran SPG sebagai sarana promosi. Bahkan, saya pernah melihat promosi surat kabar baru dengan menggunakan SPG yang menjual di perempatan jalan. Selain SPG, istilah lainnya adalah Brand Presenter, Brand Ambassador, Beauty Consultant, Sales Representative, dan lain sebagainya. Bahkan ada istilah bagi promoter laki-laki, yaitu Sales Promotion Boy (SPB). Untuk selanjutnya, kita sederhanakan aja dengan menyebutnya SPG, ya.
Apa pun namanya, SPG adalah mereka yang sengaja ditugaskan untuk berinteraksi langsung dengan konsumen. SPG memberikan solusi kepada konsumen dengan menawarkan rangkaian produk-produk yang sedang dipromosikan. Mereka juga bertugas untuk mengetahui karakter konsumen dan mendapatkan masukan mengenai produk tersebut.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah promosi melalui SPG ini masih efektif? Berikut ini merupakan fakta-faktanya:
- Rak display sebuahproduk di supermarket yang “dijaga” oleh SPG akan memperlihatkan grafik penjualan yang lebih baik dibandingkan dengan yang “tidak dijaga”. Singkatnya, bertujuan untuk mendapatkan sales opportunity dengan merchandising.
- Impulse buying sering terjadi dalam berbelanja/ windows shopping. Terbukti dengan keberhasilan SPG dalam menjaring konsumen baru.
- Dalam situasi yang kompetitif, peran SPG diperlukan untuk memonitor produknya di toko tersebut, agar proses pengiriman barang dan ketersediaan stok dapat diperhatikan dengan baik. Kata singkatnya adalah membantu selling process.
- SPG berperan juga sebagai brand ambassador suatu produk, sehingga konsumen akan melihat chemistry antara produk itu sendiri dengan cara komunikasi dan penguasaan ilmu tentang produk itu sendiri.
Nah, dari keempat point di atas, apakah bisa langsung disimpulkan bahwa promosi melalui SPG itu efektif? Jangan lupa memperhatikan hal-hal berikut:
1. Rekrutmen
Pastikan kita telah memilih SPG yang sesuai dengan profil produk kita. Jangan justru menjadi boomerang. Misal, produk kita merupakan alat kesehatan, tapi justru yang kita rekrut adalah SPG yang berpenampilan tidak sehat atau (maaf) berberat badan berlebih.
2. Pelatihan
Tentu kita gak mau SPG kita gaptek atau malah kalah canggih, ketika ada konsumen yang menanyakan tentang produk yang dipromosikannya, bukan?
3. Coverage area
Waktu kerja yang 8 jam per hari ini harus jelas menerangkan coverage area si SPG. Apakah 1 hari dia mobile dari satu tempat ke tempat yang lain, ataukah stay di satu tempat saja.
4. Sistem pengawasan kerja
Biasanya, SPG ini di awasi langsung oleh Team Leader yang melapor ke Supervisor. Ada form absen yang terkadang harus ditandatangani oleh pihak toko di tempat dia bertugas agar monitoring kerjanya terukur. Ujung-ujungnya, si SPG dapat dibayar sesuai dengan jumlah hari kerja yang sesuai dengan faktanya.
5. Kontrak kerja
Kontrak kerja ini meliputi nama perusahaan yang mempekerjakan, entah itu perusahaan langsung atau melalui agency (outsourcing), jangka waktu penugasan, kompensasi, hak dan kewajiban, dan hal lain yang terkait.
6. Sistem intelijen
Pasanglah mata dan telinga terhadap SPG competitor. Apakah kita telah mendapatkan profil SPG yang kompetitif?
7. Perlengkapan merchandising
Jangan sampai SPG kita bertugas dengan tangan kosong ya…apalagi gak pake baju/ seragam yang proper dalam bekerja. Lengkapi dengan booth yang bagus, flyer yang mendukung, peralatan kerja yang mewakili, baju atau seragam yang professional, dandanan yang matching, dan sebagainya. Tanpa “alat perang”, sama saja dengan kita menyiksa mereka untuk berjalan di malam hari tanpa membawa penerangan.
8. Cara kerja
Sepakati dengan baik bagaimanakah cara kerja si SPG ini. Apakah secara harian, mingguan, atau bulanan? Kemudian, sepakatilah tugasnya. Apakah sekedar menjualkan produk, menyebarkan flyer, survey konsumen, atau hanya berjaga-jaga saja.
9. Pelaporan/ reporting
Format reporting harus dijelaskan juga kepada SPG, berikut cara pengisiannya. Saya pernah naik darah ketika saya menunggui SPG yang menawarkan produknya kepada saya, dan ternyata selanjutnya malah ribet sendiri untuk mengisi form reporting penjualannya. Setelah saya cermati, olala…form reportnya menggunakan huruf-huruf kecil dan berbentuk kertas foto kopian murahan. Masak sih kita sebagai perusahaan yang mempekerjakan mereka bisa setega itu?
10. Evaluasi kerja
Kalau mereka bagus, karirnya bisa naik menjadi Team Leader dan selanjutnya. Kalau hasilnya kacau, ya dia harus siap diberhentikan. Again, semua ini harus jelas dalam kontrak.
11. Insentif penjualan
Ini harus dipikirkan juga. Walaupun SPG tidak memberikan hasil penjualan langsung kepada perusahaan, tapi faktor keberhasilan edukasi kepada konsumen yang akhirnya membeli produk itu harus diapresiasi.
Akhirnya, selamat mengembangkan bisnis produk Anda dengan menggunakan SPG. Silakan hubungi saya apabila Anda memerlukan konsultasi dalam hal Sales danMarketing bagi produk Anda.