Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Efektifkah Cara Mengajar Kita?

freedigitalphotos.net

Ketika membaca blog Cara Mengajar dan Melatih yang Membumi (ini adalah salah satu artikel dari acara Jambore On the Blog 2012: Sehari Bersama Blogcamp) yang diposting oleh Pakdhe Cholik, saya teringat beberapa pengalaman saya dalam melakukan pengajaran/ pelatihan selama ini.

Pakdhe Cholik dengan ringan memberikan contoh metode mengajar Pak Mangku dan Pakdhe Ndar yang sederhana, mudah dipahami, mudah dilakukan, dan tentunya dengan cara yang menyenangkan. Pak Mangku dengan nalar sederhana berhasil menanamkan ilmu untuk membedakan Stalaktit dan Stalakmit. Sedangkan Pakdhe Ndar dengan pengalaman di tentara, memberikan teknik baris-berbarisnya secara ringan kepada peleton hansip desa. Intinya, target ilmu bisa disampaikan dengan baik, dengan cara yang membumi.

 
By the way, ilmu untuk membedakan stalakTIT dan stalakMIT pun juga saya dapatkan dengan gaya yang sama dari guru olahraga saya dulu, namanya Pak Jarot. Sampai sekarang pun saya masih kenang dan kadang sering tertawa-tawa sendiri ketika mengingatnya. Bahkan, cara yang sama pun saya teruskan kepada anak-anak saya. Bedanya, selain pake teori “TIT” dan “MIT” di atas, saya ajak juga anak-anak saya pergi ke gua agar secara langsung mereka dapat melihatnya. Dalam hati pun saya bertanya, apakah anak-anak saya meneruskan ilmu yang sama kepada anak-anak mereka kelak he he…
 
Sewaktu saya melakukan coaching kepada tim di kantor ataupun ketika melakukan pelatihan Training for Trainer, seringkali saya membayangkan posisi saya sebagai peserta pelatihan, dan saya tanyakan balik kepada diri saya sendiri, apakah metode pelatihan tersebut sudah efektif?

Saya sangat setuju dengan closing statement Pakdhe Cholik, yang mana cara mengajar dan melatih anak didik perlu diselipi penjelasan yang lebih membumi, lebih dari sekedar yang ada di buku. Dengan cara itu mereka akan memahami dengan baik materi yang dipelajarinya. Ini juga layak dilakukan oleh para orangtua ketika mendampingi putra-putrinya belajar di rumah. Pakdhe Cholik pun menuliskan dengan kata yang ringkas, “Membumi, bukan membentak !”

Memang, metode yang membumi merupakan salah satu kunci keberhasilan mengajar dan melatih. Guru atau trainer yang demikian, pasti jadi idola peserta pelatihan. Guru dan trainer pun dituntut untuk mengetahui cara belajar tiap peserta didik, yang pasti berbeda-beda pula tipenya. Tujuannya adalah untuk menentukan cara mengajar yang paling efektif.  

Honey dan Mumford (psikolog Inggris), menyebutkan ada 4 (empat) tipe pembelajar, yaitu:

1. Tipe Reflektor, yaitu orang-orang yang belajar dengan mengamati dan berpikir tentang isu-isu yang berkembang. Mereka suka mengumpulkan informasi dan mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan. Tipe ini akan puas dengan metode mengajar kita dengan dilengkapi data-data.

2. Tipe Teoritis, yaitu orang yang lebih suka memahami teori terlebih dahulu. Pembelajar jenis ini menyukai model, konsep dan fakta-fakta sehingga mereka bisa memikirkan jalan keluar dari masalah secara bertahap. Tipe ini merupakan tipe yang sangat kuat sisi logika, sehingga apabila ada cara yang tidak masuk akal, mereka cukup sulit menerimanya.

3. Tipe Aktifis, di mana pembelajar mempelajari sesuatu dengan melakukannya (learning by doing), bekerja sama dengan orang lain dan siap menghadapi kesulitan yang menantang. Ciri tipe ini adalah biasanya mereka minta waktu untuk menemukan ritme dan cara sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah. Namun, begitu mereka telah menemukan caranya sendiri, kita akan takjub melihatnya.

4. Tipe Pragmatis, yaitu tipe pembelajar yang biasanya lebih tertarik bagaimana menerapkan ide ke dalam praktek. Bagi mereka, teori tak ada gunanya kecuali jika mereka melihat adanya aplikasi praktis. Tipe ini bagi saya adalah tipe eksekutor. Jadi, mereka akan melakukan sesuatu berdasar contoh atau praktek yang sudah ada, dan mereka akan terapkan seperti standar yang diberikan.

Sadarilah bahwa setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Tugas kita adalah mengidentifikasinya, dan memaksimalkan pembelajaran sesuai gaya belajarnya masing-masing. Bagaimana mengidentifikasinya? Cara paling mudah adalah dengan menanyakan kepada peserta belajar. Kadangkala, pendekatan melalui latar belakang pendidikan, budaya, dan tingkat kerumitan masalah pun bisa kita gunakan untuk menentukan gaya belajar.

Satu hal yang perlu dicermati adalah metode evaluasi pengajaran/ pelatihan. Cara evaluasi sederhana yang ditulis Pakdhe Cholik dalam proses belajar mengajar, adalah para guru atau pelatih yang biasanya mengajukan pertanyaan kepada anak didiknya : ” Apakah ada pertanyaan ? Jika tidak ada pertanyaan lagi berarti semuanya sudah mengerti “.

Sering kali sifat antikritik muncul pada tim pengajar/ pelatih, dengan menganggap semua peserta pelatihan sudah tahu dan harus belajar sendiri. Hati-hati, karena sikap itu justru menimbulkan antipati dari peserta pelatihan. Memang perlu kecerdasan dan seni tersendiri dalam mengajar dan berlatih.

Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Cara Mengajar dan Melatih yang Membumi tanggal 14 Juni 2012

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: