Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Romantisme Napak Tilas

Suatu hari, saya sengaja melakukan napak tilas terhadap perjalanan hidup saya sewaktu kecil. Napak tilas ini saya niatkan betul untuk mencari refreshment, mencari semangat baru, mencari perasaan baru, sehingga bisa lebih plong untuk menghadapi tantangan aktual hidup saya yang sesungguhnya.

Perjalanan napak tilas ini bukannya yang pertama. Dan perjalanan ini sering sengaja saya lakukan. Selalu pasti akan selalu saya jalani. Setiap melewati perjalanan ini, selanjutnya saya akan mendapatkan semangat baru dalam berkarya dan berkehidupan. Sesederhana itulah saya memiliki alasan kenapa saya tidak pernah bosan melewati rumah ini.

Ya. Sebuah rumah. Yaitu rumah nenek saya di Laweyan, Solo. Di situlah dimana masa kecil orang tua saya, dan di kota dimana saya lahir. Oh ya, waktu saya berumur 4 tahun, saya ngikut orang tua saya dinas di kota lain yang berjarak 150 km dari tempat ini. Namun, setidaknya seminggu sekali atau dua minggu sekali, kami berkunjung ke rumah nenek ini.

Suatu waktu, saya sengaja melintasi rumah ini pelan-pelan. Mungkin sekitar 5 detik saja saya melewati dengan berkendara mobil. Saya tidak masuk ke dalam rumah ini, karena sudah tidak berpenghuni lagi alias kosong. Kakek saya telah meninggal 24 tahun yang lalu, dan nenek saya sudah meninggal 6 tahun yang lalu. Saya juga tidak tahu siapa yang pegang kunci rumah saat ini.

Saat ini, kondisinya sudah cukup berubah, kecuali sang rumah. Jalan menuju rumah itu sudah diperlebar, sudah di cat dengan warna-warna modern. Sudah ada beberapa show room batik dan hotel di kanan kirinya. Dan sebagaimana saya harapkan, bayangan masa lalu pun tercipta. Saya masih teringat suatu kisah ketika saya melihat pintu rumah itu. Itu merupakan pintu dimana pernah saya gunakan untuk main petak umpet dengan kakak saya. Pintu itu sangat melekat pada pikiran saya, karena bentuknya yang unik. Tepatnya pintu ini berbentuk dua daun pintu besar, dengan engsel di kanan dan kiri. Untuk keperluan biasa, satu pintu itu dibuka sedikit, dengan digantungkan gerendel sapi, agar setiap orang yang membuka pintu akan terdengar oleh yang di dalam rumah. Uniknya, pintu kokoh yang besar ini memiliki emergency exit, dengan ukuran kecil, agar untuk keperluan darurat atau agar tidak repot membuka tutup pintu besar, karena lumayan berat. Karena saking kecilnya, pintu itu pas seukuran kita keluar masuk dengan membungkuk.

Nah, terbayang lagi saya pernah beli es buah dari pedangan pikulan sambil duduk-duduk di buk pintu ini. Buk merupakan tempat duduk tinggi, terbuat dari pasangan batu bata, dan dilapisi semen. Saya sering melamun juga di buk ini, sambil memandangi orang yang lewat sambil ongkang-ongkang kaki (menggerakkan kaki kita yang tergantung sewaktu kita duduk, karena saking tingginya buk ini).

Saya teringat dimana saya melihat dan menikmati proses pembatikan dari pembuatan pola, pelapisan lilin, pencelupan, finishing, dan penjualan. Di wilayah ini, nenek dan kakek saya dipanggil dengan sebutan den mas, sebutan bagi priyayi juragan batik. Dengan jumlah pembatik yang banyak, saya juga ingat sampai ketika saya datang ke rumah nenek saya ini, langsung ada beberapa orang yang langsung menjadi satu asisten khusus untuk saya, sekedar untuk menyuapi, menemani bermain, dan menyiapkan baju ganti.

Dalam beberapa mili detik kemudian, saya teringat bagaimana saya tiap minggu sakit panas, sehingga saya harus dibawa ke rumah nenek saya ini. Dan ajaib, setelah tiba di rumah ini, mendadak panas badan saya turun. Sekian mili detik kemudian, saya teringat lambaian selamat jalan dari nenek saya, di suatu minggu sore, ketika kami pamit hendak pulang ke rumah tinggal kami yang sesungguhnya. Saya pun menangis waktu itu. Saya sangat merasakan rasa sedihnya dan selalu berharap minggu depan saya akan ke sini lagi.

Saya tiba-tiba teringat sewaktu meninggalnya kakek dan nenek saya. Sewaktu kakek saya meninggal, saya masih kelas 4 SD. Yang saya ingat betul, saat itu saya hanya terdiam. Tidak menangis walau saya sedihnya luar biasa. Tapi, ketika nenek saya meninggal, saya salah satu yang membawa keranda jenazahnya serta yang memasukkan beliau ke liang lahat. Waktu membayangkan mereka meninggal, saya selalu menyesali diri, kenapa saya belum bisa membalas rasa sayang yang telah mereka berikan kepada saya waktu mereka hidup. Ah, penyesalan selalu datang belakangan.

Dalam 5 detik itu, ribuan bahkan jutaan rekaman bayangan dan ingatan masa lalu saya di rumah itu langsung tersembur keluar. Ada bayangan senang, sedih, tertawa, kelelahan, tangisan, haru, semangat, kemanjaan, semuanya teraduk-aduk, sehingga saya hanya bisa diam termangu. Kalau sudah sampai titik ini, tak terasa air mata pun menumpuk di pelupuk mata saya.

Dalam 5 detik itu, saya hanya diam. Durasi 5 detik tersebut saya ingin dalam kesendirian dan tidak ingin diganggu. Dalam penghayatan yang dalam, mesra, dan mengasyikkan. Dalam romantisme napak tilas.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: