Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Hidup di Jalanan

Tulisan ini sebenarnya merefleksikan saya sendiri, yang suka tidak suka, mau tidak mau, dan sekaligus sebagai pembuktian status laki-laki yang cekatan, apa adanya, dan berani menerima tantangan. Yaitu hidup di jalanan. Eit, jangan langsung membayangkan saya ini orang gak punya rumah, yang membawa bekal satu potong pakaian menempel di badan dan tidur di masjid he he…

Dari jenis pekerjaan saya, frekuensi bepergian bisa dibilang cukup sering. Tapi, wah ini harus saya batasi juga. Saya bukan sering bepergian dengan pesawat. Itu hal yang mewah bagi saya. Dalam tulisan ini, saya  menggambarkan bahwa saya sering kali bepergian dengan naik roda empat.

Ini semua berawal dari kesenangan saya ketika pegang kemudi kendaraan. Rasanya nikmat sekali. Saya merasa menjadi raja kecil, yang menentukan arah kendaraan saya. Tak lupa, saya sering klakson berkali kali kalau menemui “rakyat” yang memotong jalan saya. Saya terkadang sengaja melindas bola atau helm yang tiba-tiba menggelinding di jalan. Biar tahu rasa, batin saya. Tapi, ah. Saya juga tahu diri. Kalau di depan saya ada orang naik motor sedang pacaran, saya kadang sungkan mengklakson. Karena saya pernah merasakan asyik masyuknya pacaran seperti itu. Rasanya dunia milik berdua. Dan saya juga pernah merasakan ketersinggungan dan sekaligus kekagetan yang luar biasa ketika saya dulu diklakson oleh deretan mobil yang mengular di belakang saya, karena terlalu asyik masyuk itu tadi he he…

Paragraf di atas tadi adalah mengenai motivasi dan kesukaan. Intinya, untuk nyetir, dan apapun dalam hidup, pasti memerlukan motivasi dan kesukaan. Ini intinya agar setiap hal dapat kita lakukan dengan penuh cinta dan semangat. Apabila Anda tidak suka nyetir, segera tutup blog ini.

Selanjutnya adalah, Anda tahu tujuannya ke mana dan bagaimana caranya. Dan ini setiap orang memiliki penafsiran sendiri-sendiri. Ada yang suka lewat jalan desa. Ada yang suka mampir di minimarket atau rumah makan setempat untuk kuliner. Ada yang maunya jalan shubuh, dan ada yang sebaliknya. Intinya, Anda yang tahu kriteria Anda sendiri.

Nah, yang tidak kalah penting adalah kondisi kendaraan dan kesehatan Anda juga. Ini jelas harus safe. Periksa kondisi kendaraan sebelum jalan. Untuk kondisi kesehatan, berdasar pengalaman, mending istirahat 15 menit setiap 2 jam nyetir non stop. Bagi saya, ini cukup membantu kebugaran. Pernah juga saya coba sebaliknya, yaitu istirahat 30 menit setelah 4 jam perjalanan. Anda pengin tahu hasilnya? Pokoknya gak fit. Tetap ngantuk. Mata lelah. Punggung terpatah-patah. Nafas sesak. Dan bagi saya, namanya nyetir sendiri, ya kita yang atur waktunya.

Untuk lokasi istirahat, favorit saya di pom bensin. Kenapa? Pom bensin relatif aman, banyak temannya (walau berupa truk barang dan bis umum), dan fasilitas mushola, buat mandi dan bersih-bersih cukup komplet. Pernah saya terpaksa harus berhenti karena mata yang tidak bersahabat pada suatu perjalanan malam. Karena tidak satu pom bensin pun, saya akhirnya parkir dan tidur di halaman polsek setempat. Hehe…yang penting aman kan?

Selain itu, siapkan baju ganti untuk ukuran 5 hari ke depan, beserta alat mandi tentunya. Taruh dalam 1 tas khusus yang ditaruh di mobil. Siapkan baju tidur, baju kerja, dan baju main sekaligus. Buat jaga-jaga. Jadi, setiap saat kita udah ready kalaupun ada acara mendadak.

Tips terakhir. Carilah teman dalam perjalanan Anda. Sukur-sukur kekasih Anda bisa menemani. Wah. Dijamin, perjalanan pasti sangat menyenangkan.

Nah, ada yang pernah mengalami pengalaman di atas?

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: