Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Kearifan Pak Bowo, Juri Lomba Mewarnai

Dok. Istimewa

Saya terbawa dalam situasi lomba mewarnai dan menggambar yang diikuti oleh ratusan peserta dari usia 6-12 tahun. Saat itu pula saya berkenalan dengan Pak Bowo, yang ternyata beliau adalah praktisi seni lukis. Dan kebetulan, beliau bertugas sebagai juri lomba tersebut.

Setelah berdialong awal dengan saling berkenalan, menanyakan kabar, dan kalimat-kalimat pembuka, saya secara spontan menunjukkan pandangan ke beberapa peserta lomba. Masing-masing terlihat berbeda tingkat persiapannya. Tengok peserta yang satu ini. Ibarat tentara siap ke medan perang. Terlihat sangat siap dengan meja gambar model khusus, pastel sekian puluh warna, alas lantai, kuas gambar yang beraneka ukuran, dan pernak-pernik yang memperlihatkan bahwa si peserta ini jam terbang melukisnya sudah tinggi. Belum lagi tempat minumnya. Sepertinya itu juga mengisyaratkan bahwa dia akan berlama-lama menggambar, sehingga perlu membawa tempat minum sebesar itu.

Peserta yang terlihat asal ikut pun ada. Modalnya cuma badan, pensil warna, dan selebihnya semangat saja. Ternyata sang ibu lupa tidak membawakan meja gambar. Wajah si anak pun merah padam dan terlihat lelehan air mata dari sudut matanya. Ibunya pun sibuk menanyakan kepada panitia apakah bisa meminjam kardus, agar bisa digunakan sebagai alas gambar.

Peserta yang lain pun juga berbeda juga situasinya. Ada yang terlihat tertekan karena teriakan orang tuanya, “Mewarnainya jangan sampai keluar garis, lho ya. Dan kamu tidak boleh tegang!”. Alhasil, setelah mendengar kalimat itu, si anak justru terlihat semakin tegang setegang-tegangnya.

Melihat fenomena itu, Pak Bowo berkata kepada saya, bahwa anak itu merupakan anugerah Tuhan yang bukan diciptakan untuk meniru orang tuanya ataupun orang lain, tapi justru untuk menjadi yang makhluk terbaik sesuai bakatnya masing-masing. “Itulah dunia persaingan orang tua. Tidak mau kalah terhadap yang lain, anaknya pun mati-matian harus bisa melakukan hal yang sama“, katanya.

Dalam obrolan selanjutnya, banyak hal-hal kearifan orang tua dari Pak Bowo mengenai pendidikan anak. Ini menjadi magnet bagi  saya berlama-lama asyik berbincang. Ilmu yang saya peroleh ini seolah menjadi penyejuk jiwa dan pikiran saya, walaupun cuaca di tempat lomba ini sedang panas-panasnya. Intisari kearifan Pak Bowo saya rangkum dalam point-point berikut:

  1. Biarkan anak bereksplorasi sendiri. Itu adalah hak mereka.
  2. Kewajiban orang tua adalah memfasilitas pencarian potensi anak. Caranya dengan mengenalkan semua aspek ilmu kepada anak…dan biarkan anak memilih apa yang disenangi, dikuasai, dan tentunya positif.
  3. Bakat untuk berhasil hanya sebesar 10% dan bisa dilatih. Yang terpenting adalah kemauan (50%) dan lingkungan (40%). Selama anak mau, kita harus dukung habis-habisan, dengan lingkungan yang kondusif.
  4. Jangan paksakan sesuatu kepada anak. Terangkan dengan baik, dan kita sebagai orang tua harus konsisten melaksanakannya.

Ketiga hal di atas tersebut merupakan pelajaran bermakna yang saya peroleh dari Pak Bowo. Dan saya pun tiba-tiba teringat perkataan Naga Bonar kepada Bonaga, anaknya, “Salahku masih hidup di jamanmu. Jaman yang sulit aku mengerti, tetapi berupaya kupahami karena aku begitu mencintaimu.”

Salam hangat.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: