Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Resiko Selalu Ada di Mana-mana

Dok. Istimewa

Gambar truk yang sedang mengangkut jerami ini saya peroleh ketika perjalanan darat dari Jogja ke Solo beberapa waktu lalu. Visual ini sebenarnya sangat jamak ditemukan di sepanjang rute ini. Bahkan, dari waktu kecil pun, ketika saya sering diajak orang tua saya bepergian melewati rute ini, truk-truk yang overload ini sudah ada.

Karakternya serupa. Muatannya sangat penuh, bahkan ketinggiannya sampai 2x tinggi truk itu sendiri. Saya tidak membayangkan bagaimana jerami ini akan beterbangan sepanjang jalan apabila tidak terikat dengan rapi. Truknya dan sopirnya pun memiliki profil mirip, yaitu sama-sama tuanya. Tak jarang, si sopir truk ini hanya berkaos dalam, merokok, dan nyetir sendirian dengan wajah lempeng. Ya, sendirian. Bahkan dia tidak perlu kernet untuk memberi aba-aba. Padahal, bagi saya, sopir truk ini sedang melakukan tugas akrobatik paling berat di sepanjang jalannya.

Di belahan daerah lain, ada mobil minibus yang sudah berusia 20 tahun, yang normalnya dinaiki 6-7 orang bersama pengemudi, di hari yang naas itu terpaksa jatuh ke jurang sedalam 20 meter, bersama 18 orang yang ada di dalamnya. Mobil itu melaju tidak terkendali. Ketika pak polisi melakukan rekonstruksi kejadian, tercatat medannya yang menurun, curam, licin, dan seterusnya. Para saksi mata pun memberikan keterangan yang saya pun tidak kuat mendengarnya,  kecuali bayangan teriakan histeris para penumpangnya.

Kedua contoh di atas merupakan hasil dari perhitungan resiko. Resiko selalu merupakan ancaman. Adakalanya ancaman bagi satu orang belum tentu berlaku buat orang lain. Contoh tentang truk jerami. Bagi pengemudi, dia merasa bukan ancaman. Tapi, bagi pengguna jalan lainnya, truk itu jelas potensi masalah dan siapapun yang menyalipnya harus bermental kuat dan berdoa agar tidak tertimpa truk itu dari samping. Kalaupun selamat, itu pasti karena beruntung. Dan menurut saya, mengandalkan keberuntungan itu dasarnya lemah. Seolah menyerahkan semua urusan kepada Tuhan. Nanti kalau truk itu terguling, jangan-jangan si sopirnya akan bilang, ini juga sudah garis dari Tuhan, lha wong biasanya tidak apa-apa. Wah, ini ada yang salah kalo sudah gini…

Kehidupan telah memberikan kita pelajaran. Cermati kesuksesan dan kegagalan orang lain. Pilih, dan lakukan apa yang terbaik bagi kita. Selain kita meniru langkah sukses orang lain, belajarlah pula dari kegagalan orang lain, agar kita tidak dinilai seperti pengemudi truk tadi. Rumus ulang pola pikir yang baik, agar kita bisa memperhitungkan resiko. Diskusikan dengan banyak pihak, buka mata dan telinga, sebelum kita memutuskan sesuatu. Resiko selalu ada di mana-mana.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: