Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Konsultan, Mentor, atau Coach?

freedigitalphotos.net

freedigitalphotos.net

Menjelang akhir tahun 2012 seperti sekarang ini, adalah saat-saat terbaik melakukan review secara periodik untuk mengetahui bagaimanakah posisi kita terhadap target-target yang sudah kita tetapkan untuk tahun ini.

Ketika target belum tercapai, muncul pertanyaan bagaimanakah caranya mencapainya, di kala waktu sudah terbatas? Dan bagi yang sudah tercapai pun, muncul pertanyaan lainnya, kira-kira target tahun depan bagaimana ya?

Nah, dalam melakukan analisa pencapaian target, kita harus benar-benar paham terhadap target apa yang akan dituju dan bagaimana caranya. Ini berkaitan dengan “WHAT” dan “HOW”.

Kondisi pertama adalah ketika “kita tahu apa targetnya, tapi tidak tahu jalannya”, maka kita akan hidup dalam ketidakefisienan. Seperti mau pergi ke rumah tetangga, yang seharusnya bisa dengan jalan kaki, kita malah memilih naik helikopter, misalnya.

Kondisi kedua adalah kita “tidak tahu apa targetnya, tapi tahu jalannya”. Ini juga biang macet. Organisasi tidak mungkin bergerak apabila kita tidak tahu untuk apa kita bekerja. Situasi ini sama sialnya dengan “tidak tahu targetnya dan tidak tahu jalannya”. Solusinya adalah, ke laut aja deh he he…

Yang ideal adalah kondisi “tahu target dan tahu jalan”. Tapi, jangan asal pe-de. Kita perlu benchmark/ pembandingan. Nah, untuk itu, kita perlu Konsultan, Mentor, dan Coach.

Apa bedanya dari ketiga istilah itu?

1. Konsultan : Posisinya memiliki banyak data, bahkan data lawan-lawan kita. Dia juga memiliki INSIGHT/ masukan berupa perbandingan berbagai bisnis. Kemampuan konsultan ini akan memperbesar wawasan kita. Contoh dalam hal ini adalah hasil riset, majalah/ buku-buku dengan data-data dan analisa lengkap, hasil penelitian, hasil observasi, pendapat umum, dan lain-lain.

2. Mentor : pihak yg sudah sukses, di bidang yang sama dengan kita. Sehingga tingkat kedalaman pengalamannya, sangat membantu kita dalam proses ke target yang hendak kita raih.

3. Coach : ini seperti pelatih. Dia adalah pihak yang mampu melihat kemampuan kita, mampu memberdayakan diri, mampu memberikan tantangan dalam berprestasi.

Ketiga hal di atas bukan sekedar diidentifikasi saja. Tapi perlu diadakan pertemuan secara berkala, dan kita harus memproklamasikan target kita kepada ketiga pihak tersebut. Tanpa kita beritahu apa target kita, rasanya mustahil ketiga pihak di atas mampu memberikan kontribusi positif yang berdampak langsung kepada kita.

Saya akan share contoh buat saya sendiri, biar mudah. Saya memiliki target sebagai Manager Senior. Maka, sebagai tim Konsultan, saya mengangkat teman-teman HRD. Saya secara rutin melakukan hearing terhadap mereka dalam mengumpulkan data-data posisi yang available, prospek di tiap periode, career path, dan sekaligus berusaha memantaskan diri dengan jobdesc. Selanjutnya, saya mengangkat salah satu kenalan lagi sebagai Mentor, yang kebetulan sudah menjadi Manager Senior, untuk memberikan sharing pengalaman yang bisa saya terapkan untuk mengarah ke target tersebut, termasuk pola kerja, cara pengambilan keputusan, dll. Untuk peran yang mampu memberdayakan diri saya, menyemangati, mengarahkan aspek spiritual dan motivasi, saya tunjuk Ayah saya sebagai Coach.

Mudah-mudahan contoh ringan terhadap diri saya di atas dapat memberikan kita keyakinan, bahwa kesuksesan pencapaian target itu bukanlah hil yang mustahal…(meminjam kalimat khas alm. Asmuni Srimulat).

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: