Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Macet yang Salah

Dok. Istimewa

Manusia memang cenderung mudah menyalahkan pihak lain ketika dirinya tertimpa musibah. Contoh mudahnya adalah ketika terjebak kemacetan.

Kadang kita menyalahkan banyaknya mobil yang melalui jalan itu. Di saat lain, yang jadi alasan kemarahan adalah buruknya infrastruktur jalan atau tidak adanya angkutan umum yang layak. Di kesempatan lain, kita dengan mudahnya menyalahkan cuaca.

Akan tetapi, bukannya kita juga lah yang berada di dalamnya? Mobil yang kita naiki itu merupakan salah satu bagian dalam suatu kemacetan. Apabila mobil kita tidak ada, mungkin posisinya akan diisi oleh mobil lain, dan demikian seterusnya. Karena lalu lintas tidak lebih merupakan aliran.

Anda menyalahkan mobil lain? Lha apa bedanya dengan mobil kita? Sama-sama menjadi bagian kemacetan.

Kalaupun hujan begitu derasnya dan kemudian macet, apakah kita berhak menyalahkan hujan sebagai penyebab macet? Ingatlah akan mekanisme hujan. Hujan merupakan bagian dari siklus air alami, yang prosesnya berawal dari penguapan, pengembunan, dan dengan reaksi kimiawi athmosper menjadi titik-titik air, kemudian masuk ke tanah, kembali ke sungai dan bermuara di lautan, kemudian menguap dan seterusnya.

Saya menjadi ingat pernyataan mas Prie GS (@prie_gs). Kota-kota tempat kemacetan merejalela itu berada, adalah tempat yang malah sering kita datangi. Jauh-jauh kita datang dengan berbagai alasan, atas kesadaran sendiri, tak ada yang memaksa, tetapi setelah sampai ke tujuan hanya untuk mengomel sana-sini. Kota-kota yang kita mengeluh tentang kepadatannya, anehnya adalah kota yang menarik pendatang untuk mencari lahan untuk setelah tingal di dalamnya ngomel tentang sesaknya lahan. Ini aneh. Dan keanehan ini, hingga kini tanpa kita sadari, masih kita pertahankan. Di dalam setiap persoalan, sudut pandang kita cenderung memilih posisi sebagai korban.

Foto di atas saya ambil ketika terjebak kemacetan di Tol Lingkar Luar, Jakarta. Keadaan yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: