Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Tuhan pun “Berpuasa” – Emha Ainun Nadjib

Dok. Istimewa

Sebagai salah satu upaya meningkatkan wawasan, saya membaca 1 buku 1 minggu. Buku apa saja yang saya baca. Ada buku-buku tentang manajemen perusahaan, sales, wirausaha, biografi, perkebunan, renovasi rumah, motivasi, dan lain sebagainya.

Kegiatan ini sudah saya jalankan cukup lama, namun ada juga bolongnya. Nah, untuk memacu melakukannya dengan konsisten, saya akan sharing resensi buku yang telah saya baca 1 minggu sebelumnya pada setiap Jumat di blog. Sekalian saya mau belajar menulis. Mohon doanya agar kegiatan ini bisa saya jalankan dengan baik. Amin.

Resensi buku pertama adalah karya Emha Ainun Nadjib, yang berjudul Tuhan pun Berpuasa. Terus terang, membaca judulnya pun saya penasaran bagaimana mungkin puasa yang merupakan ikhtiar manusia agar bertakwa, justru dilakukan pula oleh Tuhan.

Buku ini telah terbit pertama kali pada tahun 1996 oleh Penerbit Zaituna, Yogyakarta yang kemudian disuguhkan kembali oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun 2012, berisi kumpulan tulisan-tulisan Emha seputar puasa. Ada pemahaman puasa, hal-hal dunia akhirat, idul fitri, sampai ada kupasan juga tentang mudik. Ciri khas Cak Nun, dia selalu bisa melihat dari berbagai sisi yang mencerahkan. Semuanya positif. Tuhan pun Berpuasa merupakan salah satu judul artikelnya, yang dijadikan sebagai judul buku tersebut.

Istilah Tuhan pun Berpuasa, adalah gambaran Cak Nun tentang bagaimana Allah SWT begitu sabar terhadap manusia. Allah selalu menahan diri dari segala sesuatu yang sebenarnya begitu mungkin Dia lakukan.

Cak Nun menulis, “Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak.” Allah memancarkan cahaya matahari tanpa menghitungnya dengan penghianatan yang kita lakukan atas-Nya setiap hari.

“Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik meskipun ketika bangun pagi hanya ada satu dua belaka hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek,” tulis Cak Nun berikutnya. Tapi Tuhan masih berpuasa. Dan selalu berpuasa. Kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.

Artikel lainnya pun tidak kalah keras menjotos pikiran kita. Tulisan berjudul Allah dan Slang-slang AC menggambarkan sentimental Cak Nun ketika hendak sholat di sebuah hotel besar internasional di Jakarta. Ia bersama sejumlah kawan berjalan menerobos bagian-bagian bawah hotel itu, melewati lorong-lorong panjang dan berliku-liku. Akhirnya, tibalah di mushalla yang terletak sangat di pojok dan tersembunyi, yang bahkan kalau sendirian, tidak ada yang menjamin akan bisa menemukannya.

Semalam, ketika menyiapkan artikel ini, istriku berkata, “Mas, jangan lupa minum obat.” “Eh, iya… aku mau sholat Isya dulu ya,” jawabku sambil buru-buru menutup laptop. Saya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Untung Tuhan masih berpuasa…

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: