Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Anak Sekolah itu…

depoknews.com

Saya sangat menikmati tugas mengantarkan sekolah bagi kedua anak saya. Yang besar duduk di kelas 4 SD, dan adiknya di kelas 2. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 15 km, yang karena macet, rata-rata waktu tempuhnya sekitar 40-50 menit.

Di sepanjang perjalanan, banyak obrolan sengaja saya ciptakan sebagai bentuk komunikasi dari bapak ke anak. Tak urung, banyak pula pertanyaan yang mereka ungkapkan. Saya sengaja tidak membahas masalah pelajaran, ulangan, pe-er, buku catatan, atau yang berkaitan dengan persekolahan, karena hal itu telah dilakukan pada malam sebelumnya. Selain itu, saya berusaha mengurangi ketegangan anak-anak dalam perjalanan.

Saya selipkan pula cerita masa kecil saya, tentang perjuangan orang-orang besar, dan bahkan sesekali kami bercanda dengan bermain tebak-tebakan. Ketika melepas mereka di pagar masuk sekolah, doa-doa pun kuucapkan agar kegiatan menuntut ilmu ini kelak akan membuat mereka menjadi orang yang sukses dunia akhirat.

Dalam kehidupan saya sehari-hari, saya paling hormat kepada anak-anak sekolah. Sejengkel-jengkelnya saya kepada sopir angkot yang berhenti sembarangan, apabila saya lihat penumpang yang naik adalah anak sekolah, pasti emosi saya luntur seketika. Ketika saya melihat seorang ibu mengebut mengantarkan anaknya sekolah sehingga dia menyerobot jalanku, aku dengan sigap memberinya jalan.

Suatu hari saya menemui barisan anak-anak TK yang saling berpegangan tangan. Rupanya, mereka akan berjalan-jalan ke sekitar sekolah. Sang guru berdiri di paling depan, sambil mengacungkan aba-aba hendak menyeberang jalan. Saya dan pengguna jalan lainnya spontan injak rem. Memberi kesempatan mereka untuk menyeberang. Prosesnya sangat khidmat, serasa semua orang mempunyai ucapan yang sama, “Wahai anak-anakku penerus bangsa, silakan jalan, nak. Hati-hati di sepanjang jalan.”

Melihat kejadian ini, air mataku terasa sedih. Bukan karena melihat ketulusan pengguna jalan yang memberi kesempatan anak-anak yang riang itu untuk beraktifitas di luar sekolah. Bukan pula karena melihat masa depan bangsa ini yang optimis bakal lebih baik di pundak anak-anak ini. Tapi sedihku ini, karena mereka menyeberang tidak melalui jembatan penyeberangan yang ada di dekat sekolahnya.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: