Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

The 7 Laws of Happiness – Arvan Pradiansyah

20130607-050610.jpg

Dok. Istimewa

Resensi buku kali ini adalah sebuah karya Arvan Pradiansyah, yang berjudul 7 Laws of Happiness (Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia). Terus terang, beberapa saat yang lalu, saya menemukan buku ini secara tidak sengaja. Waktu itu, saya menginap di rumah saudara saya yang memiliki pajangan rak buku di ruang keluarga. Pas di sudut rak, saya lihat buku ini masih dalam bersampul plastik. “Udah, ambil saja. Barangkali tepat untukmu,” katanya seolah mengerti apa yang saya pikirkan. Rejeki tentu harus diterima, bukan? He he…

Buku ini diterbitkan pada tahun 2008 oleh Penerbit Kaifa (PT Mizan Pustaka), yang berisikan model kebahagiaan yang diumpamakan sebagai tujuh makanan bergizi yang harus terus menerus kita masukkan dalam pikiran kita agar kita dapat berbahagia setiap saat.

Tiga makanan pertama berkaitan dengan diri kita sendiri: Patience (Sabar), Gratefulness (Bersyukur), dan Simplicity (Sederhana).
Tiga makanan berikutnya berkaitan dengan hubungan kita dengan orang lain: Love (Kasih), Giving (Memberi), dan Forgiving (Memaafkan).
Satu makanan terakhir adalah yang berkaitan degan Tuhan, yaitu Surrender (Pasrah).

Gaya menulis Arvan berhasil membuat kita seolah-olah mendengarkan dia nyata berbicara dengan runtut, sehingga sangat mudah dicerna. Arvan memulai bab-bab awal dengan prinsip-prinsip dasar tentang pengertian kebahagiaan, keunggulan otak, cara kerja pikiran, dan bagaimana mengelola pikiran.

Hal mendasar yang menampar saya adalah bagaimana kita harus mampu membedakan kebahagiaan dengan kesuksesan. Arvan secara lugas mengatakan bahwa sukses berarti mendapatkan apa yang kita inginkan, sementara bahagia adakah menginginkan apa yang kita dapatkan. Sukses lebih berdimensi fisik sementara kebahagiaan berdimensi spiritual.

Sukses ukurannya adalah kuantitas, dapat dilihat. Inti sukses adalah pencapaian: memiliki rumah, mobil, pekerjaan, jabatan, berorientasi pada hasil yang dicapai saat ini. Apabila belum mencapai hal-hal tersebut, dianggap belum sukses.

Sementara, menurut Arvan, ukuran kebahagiaan adalah kualitas. Kebahagiaan tidak mengacu pada pencapaian, tetapi pada proses. Oleh karena itu, kebahagiaan tidak bergantung pada kondisi di luar, tetapi kondisi di dalam. Dengan demikian, apabila sukses baru dapat kita nikmati ketika target kta tercapai, kebahagiaan sudah dapat kita nikmati mulai saat ini juga.

Kebahagiaan adalah menikmati setiap saat dalam perjalanan. Sedangkan kesuksesan adalah mencapai tempat tujuan kita. Ketika fokus kita menikmati setiap momen, kita akan mencapai kebahagiaan. Bahkan tercapai tidaknya sebuah tujuan boleh jadi seolah-olah tidak penting.

Hmmm…ini baru mulai, teman-teman. Halaman demi halaman selanjutnya akan menyadarkan kita bersama, tentang bagaimana bahagia itu tidak membutuhkan apa-apa, melainkan hanya membutuhkan diri kita sendiri… Dan tingkat selanjutnya adalah berbagi kepada orang lain. Puncaknya adalah pasrah kepada Tuhan.

Saya pun masih belajar banyak dalam hal ini.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: