Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Dukanya Orang Tua

Dok. Istimewa

Berita tentang si Dul anak Ahmad Dhani yang terlibat dalam kecelakaan beruntun beberapa hari yang lalu ini telah tersiar kemana-mana. Saya ikut prihatin atas kejadian tersebut. Tidak perlulah kita ikut-ikutan menilai ini dan itu. Biarlah pihak yang berwenang yang menyelesaikannya.

Alangkah bijaknya apabila kita mencari hikmah positif terhadap kejadian buruk yang menimpa orang lain. Bukan untuk menghakimi. Bukan untuk merendahkan. Bahkan bukan untuk mengasihani. Jadikan pelajaran bersama,

Masalah yang terkait dengan keluarga, yaitu suami, istri, dan anak, adalah sesuatu yang paling emosional. Segalak-galaknya atasan, apabila ditelepon istrinya untuk beli martabak, pasti tunduk juga he he… Sesibuk apapun aktifitas ibu, apabila ada kabar sang anak kena panas di sekolah, pasti langsung tergopoh-gopoh menyusulnya ke sana.

Saya pun merefleksikan kembali ke dalam diri saya. Dulu waktu saya kecil, saya pernah rewel karena lapar. Seharian kami berada di mobil untuk berjalan ke luar kota. Bapak saya yang menyetir. Akhirnya, kami singgah di rumah makan. Saya ingat sekali, ketika di rumah makan itu, Bapak dan Ibu memesankan kami semua timlo solo. Namun, ketika timlo solo itu tiba, mendadak saya rewel lagi karena nafsu makan mendadak hilang karena terlalu panas kuahnya. Saya ditawari lagi oleh Ibu saya, “ya sudah, mau pesen apa nak?” Saya lantas minta ayam panggang. Permintaan saya dituruti. Selanjutnya, pesanan ayam panggang itu pun tiba. Saya tambah rewel, karena ayam panggang yang dipesan itu benar-benar berukuran 1 ekor utuh dan berbumbu pedas. Karena itulah, saya pun kembali rewel dengan akhirnya memakan timlo itu kembali. Yang tentu kuahnya sudah dingin. Kedua orang tua saya pun dengan sabar melayani kerewelan saya, dengan menanyakan kembali, “Gimana nak? Mau nambah apa lagi? Ini diminum dulu tehnya agar badanmu hangat”. Saya pun diam saja sambil cemberut.

Saat itu saya sama sekali gak mikir, apakah mereka punya cukup uang untuk membeli makanan itu? Saya juga tidak berpikir bagaimana nasib ayam panggang yang masih utuh tersebut.  Apakah dibungkus dibawa pulang, atau alih-alih justru dikembalikan? Bagaimana capeknya Bapak ketika menyetir mobil, mencari nafkah, dan menghadapi mood anaknya yang lagi rewel. Dan masih banyak kejadian-kejadian bodoh lainnya yang sampai saat ini masih melekat di pikiran saya. Betapa dulu saya tidak pernah membayangkan bagaimana dukanya orang tua.

Semandiri dan seberhasil apapun yang telah saya capai, sampai sekarang ada saja yang masih membuat repot dan membuat duka bagi kedua orang tua saya. Saya kembali berhitung, ternyata saya masih lebih banyak menyampaikan berita yang tidak mengenakkan dibandingkan kabar gembira ketika berbicara dengan mereka. Menuliskan artikel ini saja, air mata saya sudah meleleh.

Ya Rabb….ampunilah hamba-Mu ini. Jadikanlah hamba sebagai anak yang berbakti, yang mampu memuliakan kedua orang tua kami. Amin…

(Note: Foto diatas adalah foto kedua orang tua saya sambil menggendong Aira, putri saya).

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Advertisements

Single Post Navigation

2 thoughts on “Dukanya Orang Tua

  1. Imam Prabudi on said:

    Very inspiration pak

  2. Thanks mas Imam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: