Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Sumpah Kewajiban

id.wikipedia.org

Ratusan orang berkumpul, kemudian menyepakati suatu sumpah, tentunya memiliki makna simbolik perjuangan idealisme. Idealismenya pun tergantung pada ratusan orang itu. Semisal ratusan orang itu berupa mahasiswa, tentunya akan berbeda idealismenya dengan ratusan orang nelayan, misalnya. Berkumpulnya pekerja-pekerja kantoran, tentunya akan berbeda dengan berkumpulnya buruh-buruh pabrik.

Yang sering saya amati ketika berkumpul adalah penuntutan hak. Penuntutan hak hidup, hak diupah yang layak, hak dihargai, hak mendapatkan pendidikan, dan ribuan hak selanjutnya. Sebaliknya, jarang sekali yang berkumpul untuk menganjurkan kewajiban. Kalaupun ada, pasti pesertanya sedikit. Itupun juga tidak ada yang meliput.

Mengapa memperjuangkan HAK lebih terlihat daripada memperjuangkan KEWAJIBAN? Ya namanya saja hal WAJIB. Tanpa disuruh pun, kita menganggap juga sudah tahu kewajiban kita. Wajib untuk menutup aurat, wajib untuk sholat, wajib untuk menghormati tamu, dan lain-lain. Wajib itu urusannya pribadi. Orang lain tidak perlu tahu. Yang penting kita sudah menjalankan, walaupun kita lebih suka melakukan kewajiban semampunya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kita mau menerima hak seadanya? Tolong jawab sendiri ya…

Menurut saya, HAK itu pun juga urusan pribadi. Misal hak untuk makan, hak untuk bepergian dengan aman, dan hak untuk mendapatkan upah. Hak itu, menurut saya, berbanding lurus dengan kewajiban. Selama kita kerja baik, pasti dapat upah lebih tinggi. Namun apabila upah rendah dan kita menuntut yang lebih tinggi, apakah kita sudah menaikkan kualitas kewajiban kita? Apabila kita merasa upah rendah dan kita mampu memperoleh yang lebih baik, bukannya sudah ada cara yang lebih elegan? Yaitu keluar dari tempat bekerja dan mencari yang lebih sesuai?

Saya ingat pesan Aa Gym, yang dengan sederhana telah mengenalkan konsep 3 M: Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang.

Bolehkah kita meminta HAK secara kolektif alias bersama-sama sampai dengan mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang? Pertanyaan yang sama langsung saya ajukan juga: apakah kita pernah berjanji melakukan KEWAJIBAN secara bersama-sama pula? Dengan cara yang sama, dengan jumlah orang yang sama, dan dengan kehebohan yang sama pula dengan cara penuntutan HAK kita?

Apabila “HAK” diganti dengan “KEWAJIBAN”, apakah kita juga sudah memenuhi kewajiban dari hal kecil, kewajiban diri sendiri, dan melakukannya sekarang?

Maukah kita terang-terangan melakukan Sumpah Kewajiban?

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: