Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Membangun untuk Merusak

Dok. Istimewa

Saya selalu melewati rute yang nyaris sama ketika berangkat di pagi hari untuk mengantar anak-anak sekolah dan kemudian saya beraktifitas ke kantor. Jalan yang saya pilih ini merupakan jalan kampung. Ukurannya cukup pas untuk dua mobil kecil berpapasan. Lain cerita apabila yang lewat adalah truk. Si pengemudi harus bertindak dengan cermat dan sekaligus berdoa semoga minimal spion tidak bersenggolan.

Saya menyukai rute ini. Pertama, jalan ini mengingatkan masa kecil saya dengan rimbunnya pohon-pohon, rumah-rumah yang sederhana, dan kehidupan warga yang tenang. Kedua, bebas macet. Karena kombinasi dua alasan di atas, saya selalu sengaja menjalankan kendaraan dengan pelan ketika melewati jalan ini.

Dulu, jalannya masih berkerikil. Orang yang berkendara pasti melewatinya dengan extra hati-hati dan penuh perhitungan. Salah langkah, sebuah motor pun bisa tiba-tiba terperosok ke tumpukan kerikil. Tumpukan kerikil pun lama-kelamaan menepi. Jalan tinggal menjadi permukaan tanah belaka. Waktu hujan tiba, berubahlah menjadi kubangan massal. Ketika cuaca kering, debunya pun beterbangan. Serba repot.

Nah, selanjutnya, mulailah dengan pengaspalan sebagai proyek swadaya. Semua warga di tepi jalan itu mengumpulkan iuran agar jalan kampung yang semula berkerikil, berdebu, dan becek ini menjadi jalan aspal yang mulus. Demi mengurangi resiko berkendara dan sekaligus meningkatkan kenyamanan warga.

Setelah pengaspalan selesai, semua terlihat gembira pada awalnya. Jalan menjadi rapi. Debu dan becek pun musnah. Motor yang terperosok pun sudah tidak ada lagi. Semakin banyak mobil dan motor yang melewatinya. Lama kelamaan semakin banyak yang mengebut karena jalannya mulus. Beberapa waktu kemudian, terlihatlah beberapa kendaraan terkapar di jalan karena bertabrakan.

Warga kampung pun sigap. Sebagai tindakan pencegahan, jalan yang sudah mulus itu pun dibongkar kembali, untuk dibuatkan polisi tidur. Dalam jarak tiap 20 meter, ada satu polisi tidur. Tujuannya satu, agar kendaraan berjalan pelan. Setelah polisi tidur dipasang, alhasil kendaraan pun menjadi berjalan pelan. Resiko kecelakaan menjadi minimal.

Ada beberapa polisi tidur yang rupanya terlalu tinggi, yang mengakibatkan beberapa kendaraan tersangkut di bagian kolongnya. Bahkan ada sepeda anak-anak yang terjatuh akibat gagal mengambil ancang-ancang. Polisi tidur yang satu ini pun akhirnya dibongkar sedikit, demi melancarkan jalan bagi kendaraan roda dua. Polisi tidur itu yang lainnya pun ada yang di bongkar kembali, karena terbukti membuat genangan di jalan ketika hujan deras. Genangan air itu membuat jalan menjadi rusak. Bekas bongkaran polisi tidurnya pun juga membuat wajah jalan menjadi bopeng.

Kehidupan jalan kampung itu pun membuat saya miris. Membangun dan membongkar pun dulu perlu biaya. Membangun dan membongkar pasti ada tujuannya. Namun, saya melihat ada yang salah dengan tindakan membangun dan membongkarnya kali ini.

Saya kuatir, apa yang kita telah namakan dengan pembangunan itu jangan-jangan kita sendiri lah yang akhirnya merusaknya. Merusak apa yang telah kita bangun, untuk kemudian membangun lagi diatas yang telah kita rusak. Membangun untuk merusak, atau merusak untuk membangun?

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: