Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Tentukan Prioritas

Menentukan Pilihan

freedigitalphotos.net

Sebagai makhluk yang dikaruniai akal pikiran, tentunya kita mampu berpikir dalam memutuskan segala sesuatunya. Semuanya merupakan  pilihan. Bahkan ketika bangun tidur pun, kita langsung dihadapkan pada pilihan. Mau meneruskan tidur atau langsung bangun. Kalau langsung bangun pun juga langsung dihadapkan pilihan. Mau menggeliat sebentar sambil lihat status di sosmed, atau bangun tidur kuterus mandi he he…

Dalam menentukan pilihan, kita harus bisa mempertanggungjawabkan hasil pilihan tersebut. Itulah namanya pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan berbagai pertimbangan kita pikirkan masak-masak, tergantung dari prioritasnya.

Ada yang menggunakan skala masalah penting (importance) dan waktu mendesak (urgency).

covey-quadrants-300x208

 

 

 

 

 

Kuadran di atas memperlihatkan 4 skala kombinasi aktifitas: (1) penting dan mendesak; (2) mendesak tapi tidak penting; (3) penting tapi tidak mendesak; dan (4) tidak penting dan tidak mendesak.

Kita pun bisa melakukan keputusan dalam beraktifitas sehari-hari menggunakan kaidah ibadah. Ada hukum yang berlaku dan mengikatnya, yaitu WAJIB, SUNNAH, MUBAH, HARAM, dan MAKRUH.

Ketika kita tahu hal yang WAJIB, bila dilakukan berpahala dan dosa bila ditinggalkan. SUNNAH akan berpahala bila dilakukan, dan ditinggalkan pun tidak ada apa-apa. Ada pula yang MUBAH, yaitu boleh dilakukan dan boleh tidak.

Selain itu, ada juga aktivitas yang seharusnya ditinggalkan. HARAM, yaitu bila dikerjakan justru berdosa dan bila ditinggalkan berpahala. MAKRUH artinya bila dikerjakan tidak berdosa namun bila ditinggalkan berpahala.

Urutan skala prioritas melakukan sesuatu yang baik adalah: wajib-sunah-mubah. Bila aktifitas wajib berbenturan dengan aktifitas sunah, maka wajib yang seharusnya didahulukan. Bila sunah bertemu dengan mubah maka sunah yang diprioritaskan. Sementara urutan meninggalkan yang tidak baik adalah: haram kemudian makruh.

Dengan kerangka ini sangat mudah bila suatu saat Anda menemukan berbagai persoalan dalam kehidupan. Misalnya mana yang seharusnya didahulukan, membayar biaya sekolah anak atau bersedekah kepada orang lain? Jawabnya, membayar sekolah anak itu lebih prioritas. Mengapa? Karena membayar biaya sekolah itu wajib sementara sedekah itu sunah.

Sekarang, saya yakin Anda pun sudah bisa menjawab bila saya mengajukan beberapa pertanyaan. “Bila dana Anda terbatas, mana yang seharusnya diprioritaskan, membantu orang tua atau membeli rokok?” Bila sudah tiba adzan, mana yang lebih prioritas, sholat atau tetap melanjutkan rapat? Bila Anda sehat dan fresh serta punya waktu, mana yang lebih priotitas, memenuhi undangan saudara atau istirahat di rumah?”

Pertanyaannya, bagaimana bila aktifitas yang wajib bertemu dengan yang wajib, aktifitas sunah bertemu dengan yang sunah? Menentukan mana yang lebih prioritas diantara yang setara (wajib dengan wajib, sunah dengan sunah) memerlukan kecerdasan dan kejernihan hati. Gunakan asas urgency (waktu) dan importance (tingkat pentingnya). Utamakanlah aktifitas yang lebih mendesak, keuntungannya lebih banyak dan kerugiannya paling sedikit.

Setiap orang mempunyai pengalaman dan pertimbangan yang berbeda saat menentukan pilihan. Tetap hormatilah pilihan orang lain.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: