Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Pahami 3 Hal Ini Sebelum Monitoring

Pahami 3 Hal Sebelum Monitoring

Dok. Istimewa

Dalam berbagai konteks, hubungan atasan dan bawahan secara umum bersifat vertikal. Polanya kalau tidak bottom-up (usulan dari bawahan ke atasan), ya top-down (perintah atau koreksi dari atasan kepada bawahan). Agak jarang menempatkan relasi atasan bawahan secara hortisontal atau selayaknya peers (rekan kerja/ partner).

Salah satu fungsi atasan adalah melakukan monitoring kepada bawahannya. Atasan harus memastikan bahwa semua telah melaksanakan proses yang disepakati, untuk mencapai tujuan tertentu, dengan jangka waktu tertentu. Hal ini biasa kita susun dengan metode SMART (specific, measurable, attainable, realistic and timely).

Monitoring/ kontrol juga ada tekniknya. Tidak asal labrak. Bagi saya, berikut ini merupakan 3 rumus yang harus dipahami ketika kita sebagai atasan melakukan monitoring terhadap bawahan:

Pertama – Tidak ada bawahan yang salah. Dalam hal ini, apabila terjadi kesalahan dari bawahan, sadarilah karena memang atasan yang tidak becus memberikan arahan. Sesederhana itu. Atasan harus memiliki sense of crisis, termasuk memahami apakah bawahannya paham terhadap penugasan tersebut atau tidak. Kalau atasan belum sampai level ini, doakan aja deh agar dia segera sadar he he…

Kedua – Apapun itu, mereka sudah mau bekerja dengan Anda. Tidak jarang, kita bekerja di sebuah organisasi dengan kondisi personel yang sudah ada. Kita nyaris tidak memiliki otoritas untuk mengganti personel tersebut. Nah, dengan latar belakan rumus ini, kita harus pandai memetakan potensi setiap bawahan. Pastikan the right man on the right place. Lakukan identifitasi kemampuan bawahan berdasar matriks “mampu” dan “mau”. Bawahan yang “mau maju” dan “memang mampu” pasti akan berbeda perlakuannya dengan bawahan yang “tidak mampu” dan “tidak mau belajar”.

Ketiga – Roda pasti berputar, so be nice! Saya beberapa kali mendapatkan cerita nyata adanya posisi yang bertukar. Sebut saja si atasan adalah “A” dan bawahannya adalah “B”. Karena satu dan lain hal, si A memecat si B. Si B pun akhirnya melamar kerja di tempat lain, eh malah mendapatkan posisi yang jauh lebih baik dari si A yang memecatnya. Nasib A yang memecatnya pun belakangan juga malah dipecat oleh atasannya A karena masalah lain. Selanjutnya, seperti sebuah sinetron, si A minta pekerjaan kepada si B. Saya gak usah cerita kelanjutannya ya.. biar Anda yang memutuskan sendiri-sendiri bagaimana baiknya he he…

Demikian sharing saya hari ini dalam memonitor bawahan. Nah, kalau memonitor atasan bagaimana caranya ya? Ingin tahu? Nanti saya akan share di artikel terpisah deh.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: