Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Persistence

Persistence

freedigitalphotos.net

Salah satu sifat persistence adalah tidak mudah menyerah. Salah satu tokoh motivator terkemuka, Tung Desem Waringin pun menegaskan, “Banyak orang mengalami kejadian seperti seseorang yang menggali emas. Mereka menghentikan penggalian emas tersebut 30 cm sebelum cangkulnya kena emas (Financial Revolution. 2005:30)”. Persistence berarti tidak berhenti menggali sebelum cangkul kita kena emasnya. Tidak peduli itu masih sedalam 10 cm atau sudah 10 meter kita menggali.

Dalam pengalaman saya bekerja, persistence ini tidak hanya merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap karyawan. Namun, persistence ini harus pula bisa diterapkan pada kehidupan sehari-hari kita. Persistence harus menjadi acuan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika kita sudah sepakat dengan target yang ditetapkan, berarti kita jangan menyerah sampai target tersebut tercapai. Saat bertemu dengan kesulitan, tentunya kita harus berpikir bagaimana dan apa saja alternatif penyelesaiannya. Sama halnya kita mempersiapkan target pendidikan anak kita. Kita harus bisa memasukkan unsur persistence di sini. Selain anak kita siapkan kemampuan akademisnya, kita sebagai orang tua pun harus lebih aktif mencari alternatif pengembangan dan perencanaan ke depan dan mencari solusi ketika rencana tidak berjalan dengan baik.

Segala sesuatu akan berbuah apabila kita tekun menjalaninya. Hukum alam mengatakan tidak ada pohon yang baru ditanam dari bibit langsung berbuah keesokan harinya bukan? Semua butuh proses. Tidak ada yang instan. Dan dalam hidup ini, celakanya kita kerap kali tidak tekun dan sabar terhadap proses itu. Lihatlah tawaran yang marak di internet. “Tanpa kerja jadi kaya”, “Modal Dengkul Duit Sebakul”, dan iming-iming lain. Kata financial planner Ligwina Hananto, itu cuma penipuan belaka. Yang tambah kaya cuma yang buat sistem, kita yang menyetor uang ya pastinya hilang modal.

Dalam persistence bukan cuma kesabaran pasif, tapi juga ada faktor ikhtiar keras dan ulet. Kita harus setangguh emas yang kita hendak tuju itu sendiri. Dan menjadi emas, memang jauh lebih sulit daripada menjadi sekedar loyang belaka.

Namun ingat, persistence beda artinya dengan terlalu banyak menuntut lho ya. Persistence juga bukan keras kepala.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: