Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Liku-liku Interaksi

IMG-20170328-WA0055Suatu hari, salah satu anak buah mendatangi saya dengan wajah bersungut-sungut. Dia memberikan kabar kalau ada proses invoice yang tertunda di bagian budget. Anak buah saya ini meminta saya kirim email ke bagian budget, agar segera memberikan persetujuan. Selain itu, anak buah saya berbisik, “Pak, males kalau nemuin ibu-ibu ini, pak. Yang ada, bapak siap-siap aja mendengarkan ceramah”. Ya, kebetulan kepala divisi ini adalah perempuan paruh baya.

Saya pun alih-alih menelepon atau mengirimkan email, saya memilih untuk mendatangi ruangannya.

Sambil melangkah, saya berfikir keras untuk bersiap-siap menghadapinya sambil menyiapkan ilmu-ilmu interaksi sosial. Saya coba recall, bahwa interaksi dapat berlangsung dengan baik jika aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Satu hal yang perlu ditegaskan adalah adanya kesadaran atas pribadi masing-masing. Jika tidak adanya kesadaran, maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.

Kemudian pikiran saya melompat ke persoalan komunikasi. Komunikasi merupakan syarat terjadinya interaksi sosial. Hal terpenting dalam komunikasi yaitu adanya kegiatan saling menafsirkan perilaku (pembicaraan, gerakan-gerakan fisik, atau sikap) dan perasaan-perasaan yang disampaikan.

Nah, sampai di sini, saya pun memahami, bahwa ilmu-ilmu lain perlu kita kuasai dengan baik. Misal memahami perbedaan kodrat manusia. Adanya perbedaan kodrat laki-laki dan perempuan, pasti memerlukan pemahaman dan penafsiran yang hati-hati. Tidak bisa dipukul rata.

Sebagai contoh, cara wanita menyampaikan pesan, perasaan, atau pikirannya, pasti berbeda dengan laki-laki. Belum lagi faktor lain adalah penerima komunikasi, pesan, media, dan efek.

Tidak terasa, saya sudah sampai ke ruangannya. Saya masuk dengan sopan setelah saya melihat kode beliau bahwa saya “ok” diperbolehkan masuk. Beliau bertanya kabar seperti biasanya, jauh dari kesan galak, dan kami berbincang kesana kemari. Saya sengaja tidak singgung sedikitpun mengenai persetujuan budget, karena saya juga belum tahu bagaimana cara saya “masuk” ke agenda utama tersebut.

Setelah 10 menit diskusi tentang kondisi keuangan perusahaan, proyeksi bisnis, dan naiknya harga-harga pembelian barang mentah, beliau berkata,”Pak, budgetnya sudah saya setujui. Nanti bapak cek aja di sistem.”

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun pamit karena sudah lewat jam makan siang. Saya langsung temui anak buah saya, sambil bilang, “clear, ya”. Dan seketika itu, giliran dia yang menatap saya dengan wajah bingung, he he..

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

(Foto di atas saya ambil dari interaksi seorang Sales Agent dengan pelanggannya)

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: