Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Be Smart: Berbicara (3/4)

pb-121220-aceh-da-15.photoblog900Selamat pagi semua… Semoga sehat selalu. Aamiin. Kali ini, saya akan teruskan rangkaian Be Smart bagian ketiga, yaitu Berbicara.  Dua rangkaian sebelumnya bisa disimak kembali di  Be Smart: Membaca (1/4) dan Be Smart: Menulis (2/4).

Setelah membaca dan menulis,  mulailah berbicara. Berbicara tidak sebatas di muka umum, tapi jadikan ini kebutuhan. Bicara dengan teman, pasangan, tetangga, dan lainnya. Bahkan berbicaralah ketika Anda naik angkutan umum, bertemu pengemis, atau ketika masuk sebuah gedung.

Sangat sulit membayangkan apabila kita tidak berbicara. Sependiam-pendiamnya kita, pasti kita akan gatal berbicara minimal ketika kita tidak nyaman. Mau bukti? Cobalah Anda naik bus kota dengan berdiri, kemudian kaki Anda diinjak orang dengan keras dan tiba-tiba. Masih tidak mau berbicara? Sini coba saya yang injak, he he. Janganlah lawan kodrat berbicara.

Asahlah keterampilan berbicara ini sehingga kita bisa memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar kita, sesuai kepantasannya. Berbicara dengan atasan, tentunya berbeda ketika berbicara dengan anak usia 5 tahun. Tingkat kedalaman pembicaraan ketika diskusi dengan calon investor tentunya berbeda dengan ketika bertemu teman di tengah perjalanan.

Jadi, mulailah bicara. Kuasai satu demi satu hal yang paling Anda suka. Hafalkan beberapa teori, ilmu pengetahuan, hasil penelitian, dan bacaan, yang mendukung konteks pembicaraan tersebut. Semakin Anda belajar berbicara, tuntutan membaca dan menulis pun bertambah. Mutu bahasan pun akan meningkat. Tidak melulu bilang “ya ya ya”, manggut-manggut, atau senyum-senyum saja alih-alih buang muka.

Nanti, insyaallah, semakin lama Anda akan menemukan gaya berbicara Anda. Bahkan, apabila Anda seorang dosen, Anda akan berhasil menggunakan gaya berbicara yang berbeda kepada mahasiswa di kelas ataupun kepada besan, meskipun dengan data riset yang sama.

Betapa bingungnya orang tua kita, misalnya, ketika kita berbicara kepadanya seperti gaya bicara seorang jaksa penuntut umum di majelis sidang. Jangan salahkan pendengar kalau kita pun tidak menguasai ilmu bicara.

Saya pun, ketika berbicara singkat dengan orang lain, biasanya dengan menyiapkan minimal 3 topik. Mulailah pertama dengan topik umum, yaitu sapaan. Kemudian, kedua, samakan frekuensi dengan cara mengutarakan situasi yang sama-sama sedang dihadapi. Misalnya kepada atasan, sampaikan situasi kinerja saat ini. Selanjutnya ketiga, sampaikan opini Anda terhadap hal itu. Kepada atasan, saya biasanya lanjutkan kalimat kedua tadi dengan pembicaraan seperti, “Untuk saya pribadi, saya masih belum puas, pak. Namun saya memiliki rencana…..(dan seterusnya)”

Lakukan dan latihlah selalu. Lama kelamaan keterampilan berbicara Anda akan bertambah, lebih bermutu, dan itu semua mengalir dengan sendirinya.

Nah, setelah kuasai teknik bicara, apa lagi langkahnya? Nantikan di artikel selanjutnya.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: