Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Be Smart: Mendengar (4/4)

mendengarkan-anakSetelah Anda membaca, menulis, berbicara, maka kecerdasan intelektual akan lengkap dengan kemampuan selanjutnya, yaitu mendengar. Saya pernah menulis beberapa artikel tentang topik ini, yaitu Belajar Mendengar (Bagian 1), kemudian di Belajar Mendengar (2 – selesai) dan silakan baca juga yang ini Mengapa Saya Tidak Didengar?

Janganlah karena merasa pintar bicara, Anda tidak sabar mendengar orang lain bicara. Tatap dia, hormati dia, dengarkan dia, meskipun apa yang dikatakannya bukan soal baru bagi kita.

Ada sesuatu yang lebih besar dari soal kata-kata dan pengetahuan baru. Apabila Anda mendengarkan orang lain berbicara, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat orang itu.

Kebiasaan mendengar ini, selain ramah pengetahuan, hal ini juga ramah persahabatan. Saya pernah hadir dalam sebuah rapat lintas kepala divisi, dimana CEO hanya berbicara selama 5 menit saja untuk menjelaskan situasi yang ada. Kemudian sepanjang 2 jam selanjutnya, dia mempersilakan setiap kepala divisi untuk mengemukakan strategi-strategi untuk menyelesaikan situasi yang ada.

Walau hal-hal yang diungkapkan oleh tiap-tiap divisi ini tidak semuanya adalah baru, namun CEO ini dengan positif merespon setiap masukan dengan baik, tetap senyum, dan selalu mencatatnya. Semua puas karena merasa ide-ide didengar dengan baik. Perkara keputusan selanjutnya menggunakan ide yang mana, kami sama-sama memahami, itu adalah hak mutlak CEO.

Di saat lain, saya menghadapi situasi yang tidak kalah peliknya. Ketika itu, saya menghadiri seminar yang dibawakan oleh teman saya. Setelah break makan siang, di saat perut kenyang dan mata mengantuk, teman saya ini berusaha membangkitkan konsentrasi peserta dengan membawakan cerita humor. Dia bercerita tentang seseorang yang masuk pesawat, dan langsung duduk di kursi pesawat paling depan. Orang ini hendak pergi ke Surabaya. Dia ngotot tidak mau pindah kursi karena dia merasa paling awal masuk ke pesawat, sehingga dia berhak memilih tempat duduk sendiri seperti layaknya di angkutan umum lainnya.

Saya sudah tahu bagaimana joke ini terselesaikan dengan klimaks gemuruh tertawa dari semua peserta. Namun, bayangan ini menjadi hilang, ketika salah satu peserta dengan lantang berteriak tiba-tiba, “Ah, itu aku tahu cerita akhirnya… dia pasti dibilangin kalau duduk di depan akan ke Medan, sehingga dia akhirnya mau pindah ke nomor kursi di belakang…”

Bayangkan saja, drama kelucuan yang hendak dibangun teman saya ini runtuh seketika. Terlihat pula raut mukanya menjadi tersenyum kecut. Entah dia berkata apa dalam batinnya.

Jadi, mendengarlah.

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: