Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Marah dan Gembira

template-formats-dynamo-salesforce-appDalam kondisi yang sedang kusut-kusutnya, saya mewawancarai calon kandidat yang melamar bekerja di kantor.

Tanpa disadari, saya terlalu keras melakukannya dengan menghujani pertanyaan-pertanyaan yang mematikan.

Dia menjalani wawancara dengan bersemangat, anggun, dan selalu tersenyum. Terlepas dari kemampuan kandidat ini untuk memberikan jawaban yang cerdas, kompetensi yang baik, dan pengalaman kerja yang kuat, saya pun akui bahwa saya telah melampiaskan kekesalan saya dengan cara yang tidak pada tempatnya.

Ketika menutup wawancara, saya genggam erat tangan kandidat itu sambil dalam hati saya meminta maaf dan mendoakannya. Kemudian, saya infokan ke HRD bahwa kandidat ini lolos dan dinyatakan diterima.

Bagaimana kisah si kandidat tadi selanjutnya? Setelah saya meluluskan tahap wawancara tersebut, terdengar kabar dia menarik diri karena tidak diijinkan keluar dari tempat pekerjaan sebelumnya.

Ternyata, sayalah yang perlu didoakan. Dia telah berhasil menjadi guru saya pada momen wawancara.

Ali bin Abi Thalib RA pernah mengatakan, “Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji ketika sedang gembira.”

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya?Β Β Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: