Syariful Akbar

Original, Fresh & Loud

Manajemen Konflik

beverage-breakfast-business-545061

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan. Bahkan sepanjang kehidupan, manusia senantiasa dihadapkan dan bergelut dengan konflik.

Demikian halnya dengan kehidupan organisasi. Anggota organisasi senantiasa dihadapkan pada konflik. Perubahan atau inovasi baru sangat rentan menimbulkan konflik (destruktif), apalagi jika tidak disertai pemahaman yang memadai terhadap ide-ide yang berkembang.

Menurut Dawn Baskerville, ada 6 tipe pengelolaan konflik yang dapat dipilih dalam menangani konflik yang muncul, yaitu:

  1. Avoiding: gaya seseorang atau organisasi yang cenderung untuk menghindari terjadinya konflik. Hal-hal yang sensitif dan potensial menimbulkan konflik sedapat mungkin dihindari sehingga tidak menimbulkan konflik terbuka.
  2. Accomodating: gaya ini mengumpulkan dan mengakomodasikan pendapat-pendapat dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat konflik, selanjutnya dicari jalan keluarnya dengan tetap mengutamakan kepentingan pihak lain atas dasar masukan-masukan yang diperoleh.
  3. Compromising: merupakan gaya menyelesaikan konflik dengan cara melakukan negosiasi terhadap pihak-pihak yang berkonflik, sehingga kemudian menghasilkan solusi (jalan tengah) atas konflik yang sama-sama memuaskan (lose-lose solution).
  4. Competing: artinya pihak-pihak yang berkonflik saling bersaing untuk memenangkan konflik, dan pada akhirnya harus ada pihak yang dikorbankan (dikalahkan) kepentingannya demi tercapainya kepentingan pihak lain yang lebih kuat atau yang lebih berkuasa (win-lose solution).
  5. Collaborating: dengan cara ini pihak-pihak yang saling bertentangan akan sama-sama memperoleh hasil yang memuaskan, karena mereka justru bekerja sama secara sinergis dalam menyelesaikan persoalan, dengan tetap menghargai kepentingan pihak lain. Singkatnya, kepentingan kedua pihak tercapai (menghasilkan win-win solution).
  6. Conglomeration (mixtured type): cara ini menggunakan kelima style bersama-sama dalam penyelesaian konflik.

Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul. Maka,  ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis, bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.

Di sisi lain, semua pihak hendaknya sadar bahwa semua unit/ divisi merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung. Tidak perlu ada yang merasa paling hebat. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar divisi yang ada.

Ada konflik di rumah? Atau dengan teman? Silakan coba selesaikan dengan cara pengelolaan di atas.

Bagaimana dengan saya? Saya sering gunakan kalimat pamungkas,”Mari kita selesaikan di meja kopi.” He he he…

Salam sukses.

Ingin ngobrol dengan saya?  Follow saya di twitter @syarifulakbar.

Advertisements

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: